Monday, February 10, 2014

TiBo; Bukan Ci*man Pertamaku

Waktu kecil, gua suka banget melihara kucing. Saking sukanya, gua ama kucing peliharaan gua kaya punya ikatan bathin, jadi kaya saling ngerti bahasa masing2.
Kucing yang paling gua ingat adalah sepasang kucing yang gua namain Tiwi dan Bojes (waktu itu lagi ngefans sama artis dari ajang pencarian bakat, hihihi).
Gua sering ngalamin suka dan duka sama mereka (beugh), TiBo sering nemenin gua belajar dengan melingkar ngorok di kaki gua, walau kadang juga ribut saling colek saling gigit, nemenin nonton TV dengan posisi lucu dan tak terbayangkan; si Tiwi tiduran di ketiak gua karena gua posisinya nidurin tangan, setelah jilatin-jilatin tubuh dan mendesah seolah melepas penat, kemudian nyamping dengan sebelah tangannya meluk gua, lalu kalo datang Bojes, biasanya dia suka tidur di atas perut gua. Kadang si Tiwi naek ke atas TV dan ngegerak-gerakin tangannya seolah ingin nangkep orang yang ada di dalam TV sampe gua bengong dan bingung mau ngapain selain merhatiin gemes dan cekikikan, dan masih banyak cerita lain yang mungkin entar-entaran aja gua ceritainnya. Keburu kebelet nih nyeritain kejadian sangat indah di malam yang menyeramkan itu.

Saturday, October 19, 2013

Ups, Salah!



            Sebagai seorang pelupa, udah gak aneh kalo tiba-tiba ketinggalan barang, lupa nyimpen, salah ambil barang tahunya punya orang (he), nyasar, salah naek angkot, salah manggil nama orang, dan lain lain sebangsa dan senegaranya he.
            Tapi kalau sampai salah SMS (baca yang lengkep) SMS yang berisi nama orang yang jadi objek, dengan kata lain mau ngomongin orang itu ke temen kita tapi SMS tersebut malah dikirim ke orang yang diomongin! Oh My God!
            Setidaknya, yang ku ingat kejadian itu udah tiga kali. Untungnya (orang Indonesia selalu untung, he) orang-orang itu gak marah. Aneh dan bingung sih iya.
            Masih gak kebayang ngerinya kalo ngalamin itu?
            OK, mari kita rangking tingkat kengerian kalo salah ngirim SMS!

Wednesday, October 16, 2013

1000 Terakhir



                Aku keluar dari mushalla SPBU dengan lega, kalau udah shalat emang rasanya plong, apalagi kalau mau bepergian, khawatir kenapa-napa kalo belum shalat mah, he.
                OK, aku cek! Jas almamater dah dipake, masker dari slayer udah, kacamata, sarung tangan? Sip dah, tinggal ngisi bensin, terus melanjutkan perjalanan secepat mungkin, panas begini beresiko numbuhin koloni jerawat baru kalo kelamaan di jalanan dengan debu-debu jalanan mah, halah.
                Meski hari ini panasnya amit-amitan dan kondisi lalu lintas seperti biasa selalu terhambat oleh perbaikan jalan di beberapa bagian, tapi karena udah kadung nia,t perjalanan ‘menyiksa’ itu tak terasa. Saat melewati beberapa daerah yang jalannya diperbaiki yang ada POLANTAS-nya, baru nyadar kalau gak pake helm! Alamak…

Sunday, September 29, 2013

Di Antara Sejuta ‘Ah!’



Ini desah ke seribu,
Tapi siapa aku?
Bahkan belum mengantongi es satu.

Ini resah yang dulu-dulu.
Tapi seperti debu, yang meski tak rela,
Angin tetap kejam membawanya jauh.

Untung saja kakiku terlanjur meneduh,
Meski di bawah pohon yang seperti hendak rubuh.
Entah, apa buahnya cukup memberiku bekal,
Untuk menempa diri dalam kenikmatan intelektual.

Negeri 1001 Kilobyte



    Negeriku ini isinya hanya orang-orang bodoh. Alih-alih mencari tahu cara menggunakan kesempatan, malah sibuk mencari hiburan. Sepotong haha saja bisa membuat lupa dirinya sedang dimana. Dan ketika hiburan semakin garing, mencari domba lain untuk diadu atau bahkan dengan suka rela mengajukan diri sebagai rival. Pikun sudah dirinya hendak kemana.
            Kalau begini, entah lebih baik berpihak kemana. Kepada aktivis yang rabun dan bermental tipis, atau kaum proletar yang bahkan tak mengerti apa definisi pintar. Di sini akal benar-benar seperti dimuseumkan, dan nurani tergantung pada siapa yang memuhasabahi.
            “Kamu sedang apa?”
            “Hah?”
            “Dari tadi kamu saya panggil diam terus, ngelamun kamu ya?”
            “Hah!?”

Wednesday, September 4, 2013

Tema 2 : Dia


Dia?
           Tak butuh waktu lama bagiku untuk bisa dekat dengannya. Senyumku nyaris menyerangnya bertubi-tubi kapan saja kami bertemu. Dan dia hanya tersipu malu dan tak punya alasan untuk tak dekat denganku, sang Ketua OSIS yang terkenal kemana-mana karena ‘keramahannya’.
            Aku tak pernah nyaman dipanggil playboy tapi aku tak berusaha menyangkal karena toh aku gak merasa. Tapi aku bisa dengan mudah dekat dengan siapa saja, terutama kaum hawa. Dan tanpa sadar banyak diantara mereka banyak yang salah mengartikan arti pendekatanku. Bukan salah mereka kalau tiba-tiba merasakan perasaan yang berbeda ketika diperhatikan olehku. Bukan salahku juga membuat mereka menanam berjuta harapan yang ternyata akan berujung semu.