Ulcer? Abscessus?
Halah. Sekeren apapun namanya
tetep aja tidak mengurangi rasa tersiksa oleh bintik panas membara bin menyiksa
itu !
Yupz, lanjut dari kisah kemaren,
bahwa ternyata efek tendangan ‘tak sengaja’ temanku itu dahsyat! Aku bukan
hanya makin terpincang-pincang tapi repot duduk, repot naik tangga, dan
laen-laen.
Unfortunately, agenda-agenda selanjutnya malah mengharuskanku
sering-sering jalan dan duduk manis.
OK lah, ketika duduk aku bisa
mengakalinya dengan menempatkan pantat kiri tempat bersarang bisulku itu gak
nyentuh kursi, agak aneh sih kelihatnnya, tapi itu lebih mendingan dibanding
ketika jalan apalagi harus naik-turun tangga (tempat materi di lantai 2 lagi!).
Hmm, meski akhirnya semua peserta
dan penghuni gedung lain akhirnya mafhum dan hanya nyengir dan geleng-geleng, -meski
tak sedikit yang ngebecandain, tapi benjolan yang gak gede-gede amat itu bikin
repot ketika shalat; naek turun (rukuk dan sujud) meski pelan-pelan, tapi itu
tak seberapa dibanding ketika harus tahiyyat akhir. Posisi bisulnya pas banget
kedudukin ketika posisi itu.







